Detail Buku:
Deskripsi:
"Leila bercerita tentang kejujuran, keyakinan, tekad, prinsip dan pengorbanan...Banyak idiom dan metafor baru di samping padangan falsafi yang terasa baru karena pengungkapan yang baru. Sekalipun bermain dalam khayalan lukisan-lukisannya sangat kasat mata." - H.B.Jassin, pengantar Malam Terakhir Edisi Pertama."Dalam cerpen 'Air Suci Sita', ditulis di Jakarta 1987, Leila memulai ceritanya dengan kalimat:'Tiba-tiba saja malam menabraknya.' Sebuah kalimat padat yang sugestif dan kental...Dengan tehnik bercerita yang menarik, Leila berhasil mengangkat gugatan mengapa hanya kesetiaan wanita yang dipersoalkan, bagaimana dengan kesucian para pria? (...) Sebagaimana awal dari perjalanan panjang Leila sebagai salah seorang penulis di masa depan, kumpulan ini penuh janji." - Putu Wijaya, Tempo, Februari 1990.
âKeyakinan Leila yang sangat tinggi pada kekuatan bahasa... membawanya kepada penulisan prosa yang sangat leluasa dalam membangun cerpennya. Ia leluasa tanpa khawatir bahwa bahasa yang digunakannya akan berkhianat kepadanya dan kemudian hanya melahirkan penjungkirbalikan logika dengan mencampurbaurkan dunia fantasi dengan kenyataan.â - Afrizal Malna, Kompas, 8 April 1990.
âKeberadaan realitas yang saling berkelindanâ"paduan antara masa lalu, masa kini, dan masa depanâ"memberikan pemahaman kepada pembaca tentang bagaimana konvensi sosial, misalnya norma-norma seksual, tak pernah betul-betul berubah.â- Tineke Hellwig, Virtual Lotus: Modern Fiction of Southeast Asia, 2002.
âLeila S. Chudori adalah salah seorang dari sedikit pengarang Indonesia yang berkomitmen kuat dan inovatif dalam mengangkat ketidakberesan dalam praktik sosial. Gayanya tidak konvensional, temanya meliputi wilayah-wilayah tabu seperti absolutisme negara, chauvinisme, dan moralitas yang dijunjung tinggi secara munaik; keduanya, gaya dan temanya, membuatnya menjadi sosok yang luar biasa dalam dunia sastra Indonesia.â - www.culturebase.net, situs penggiat seni Eropa.

